Jum’at, 20 Mei
2016. Setelah kelar nulis pemuda galau dalam gelas(?), dan udah masuk ke kamar
kosan, eh malah masih pengen nulis lagi... sekarang lagi kepikiran Dosen mental
killer.
Throw back Tahun
2013, masa-masa kepala botak (paska latihan diksar). Masih maba lah pokonya. Masih
excited bisa makan tugas kuliahan sampe ngalong dan bela-belain gak tidur sampe
subuh Cuma buat tugas Gambar Teknik.
Sebenarnya dulu
sempat nulis kegalauan Dosen mental killer ini. tapi gak sempat dipublikasikan
dan akhirnya tesimpan di dalam laptop dan laptopnya udah dijual buat ongkos
pulang ke subang setalah 5 tahun di batan gak pulang-pulang.(bang toyib mah
belum apa-apa). Kepikiran nulis ini lagi setelah kemaren ikut ngelamar kerjaan
sebagai guru bimbel di salah satu yayasan di Batam. Pemilik yayasan bilang ke
aku kurang lebih kaya gini. “kehadiran kalian (kami calon guru bimbel) itu
bukan dilihat dari daftar hadir, tapi kami akan lihat daftar hadir kalian dari
statistik kemajuan murid nanti”.
Paham maksudnya?
Nah ini dia esensi dari kata “Mengajar”. Terkadang sebagian guru dan dosen lupa
akan esensi dari tenaga pendidik sesungguhnya. Menurut aku, pendidik yang
sebener-benernya pendidik adalah pendidik yang mampu untuk memberikan pemahaman
kepada murid didiknya. Entah dalam kondisi apa pun itu seorang murid. Memang ada
sebagian pendidik yang hanya melakukan tugasnya saja, mereka lupa dengan
kewajiban dan tanggung jawab sebagai pendidik. Meraka hanya berpikir, “tugas
saya adalah mengajar, menyampaikan materi” tok sampai situ aja. Mereka tidak
pernah paham bahwa tugas pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi
mentransfer ilmu. Ngertikan makna mentrasnfer? Ilmu yang ada di kepala mereka
harus pindah ke kepala muridnya.
Mentransfer. Pernah
mentrnsfer data dari USB ke laptop atau sebaliknya? Fenomena apa yang terjadi? Yah
data yang ditransfer terkadang cepat dan terkdang lambat. Ketika meraka
menstranfer data cepat sebenarnya ada dua faktor. Pertama, muridmya memang
cerdas atau pendidiknya yang cerdas dalam mentrasnfer ilmu. Nah ini dia susah
gampangnya sebagai pendidik. Terkadang pendidik harus paham betul bagaimana
cara murid itu berpikir pada suatu persoalan sehingga ketika murid mentok dalam
memahami persoalan, pendidik tahu apa yang harus diperbaiki dari cara beripikir
mudid terhadap masalah tertentu. Namun, kebanyakan pendidik yang selama ini
saya jumpai. Meraka hanya mengenban tugas saja. Yah saya sudah jelaskan, anda
harus nya paham. Toh ketika saya nanya ke kalian ada yang ditanyakan pun kalian
diam aja. Artinya tidak ada yang tidak dipahamikan?. Pendidik seperti ini
adalah pendidik yang biasa aja. Tidak ada nilai lebih dari dia. bahkan esensi
sebenarnya dari title pendidik itu pun kurang cocok untuk dia sandang.
Semester satu
aku ada seorang dosen yang mengajarkan tentang teknik material. Dia bercerita
tentang seorang mahasiswa yang sangat tidak mengerti matematika namun karena
dia paham akan masalah mahasiswa tersebut dia bimbing, dia didik, dia tuntun
hingga akhirnya di penghujung semester, nilai yang biasanya 10, 20 dia bisa
dapatkan 70 bahkan 80. Ini dia tugas sesungguhnya pendidik. Mentransfer ilmu
dari kepala mereka sampai tersimpan di kepala murid. Bukan Cuma ngajar terus
tugas nya kelar, setalah ujian terus mahasiswa tidak lolos malah dia biasa aja.
Aneh kan? Hey ... sadar tidak ketika kalian melihat murid kalian gagal dalam
menerima materi yang kalian sampaikan, itu artinya kalian GAGAL dalam mengajar!
Ini dia maksud dari ketua yayasan bimbel tadi. Keberhasilan guru dilihat dari
keberhasilan muridnya. Oke kita tidak bisa menyalahkan Pendidik 100% dalam
mentransfer ilmu ke muridnya. Karena faktor dari muridnya juga mempengaruhi. Namun,
sekali lagi aku harus menegaskan. Pendidik ibaratnya seperti kontrol PID, dia
harus menyeimbangkan kondisi error dari muridnya. Maksudnya, ketika dihadapkan
dengan murid yang cerdas, tugas pendidik ringan. Tidak perlu bekeringan sampe
bahas-basahan. Karena, keringat yang sedikit sudah mampu menyeimbangkan
kemampuan muridnya dalam menerima ilmu. Namun, ketika murid dalam keadan
terpuruk, bego, bandel, malas, dan sebagainya. Pendidik harus bisa
menyeimbangkan semua kondisi error tadi supaya kembala stabil. Pendidik harus
tahu bagaimana murid bisa menerima semua ilmu. Pendidik harus mencari cara
sebaik mungkin untuk me-reduce semua error pada murid tadi. Ketika pendidik
mampu mengatur kontrol sehingga menyeimbangkan kemampuan muridnya sampai dia
bisa mengikuti meteri pelajaranya, ini dia pendidik sebenarnya. Bukan pendidik
ABAL-ABAL.
Mungkin jika
dari 30 murid, yang tidak lulus hanya 3-5 orang dengan nilai 50-55 dari standar
kelulusan 60, ini masih dalam kondisi wajar. Tapi jika dari 40 siswa tidak ada
yang lolos dan nilai yang tidak lolos adalah 2,3,4,5 20,30 dari skala 100, ini
siapa sebenarnya yang error? Yang salah siapa? Muridnya? Hey genk kami masuk
univeritas ini dari hasil seleksi dan pasti paham betul lah kampus kami tidak
sembarangan aja lolonya. Artinya, kami semua punya kemampuan yang lebih dari
kawan-kawan di luar kampus kami. Tapi kenapa dari awal sampai akhir nilai yang
terera di kertas 2,23,25, 45? Dan ini masiv! Merata semuanya!! Kita yang salah?
Atau gimana?
Aku juga tidak
habis pikir dengan pola pikirnya, dia memberi kami tugas yang sangat banyak. Dengan
dalih, “biar kamu tidak ada waktu buat main-main”. Wtf, ini apa? Dia tidak
paham akan kinerja otak dan maksan pressure of mind. Dia hanya berpikir kerja
terus-menerus kan menghasilkan suatu hasil kerja yang menyenangkan. Memang iya!
Tapi cek lah bagaimana pendidik itu memberikan mindset terhadap diri dia
sendiri. Dia ingin mahasiswa menganggapnya killer. Dia membuat kita tidak
nyaman dengan keberadaannya. Tidak paham kah anda, keberhasilan murid dalam
belajar adalah salah satunya kenyamanan?. Kenyamanan akan memeberikan kita
kemudahan dalam melakukan sesuatu. Karena kita melakukanya dengan hati yang
senang. Tak ada beban. Tapi dia? sudah memberikan mindeset Dosen killer,
memberikan tugas banyak dan waktu deadline yang sangat kamvret. Sebenarnya it’s
oke memberikan tugas banyak. Asal, jadikan lah itu suatu hal yang menyenangkan.
Bukan dianggap beban. Sungguh kawan, ketika aku melihat dosen ini rasanya entah
lah. Lemas aja. Dia hanya bisa menyampaikan, belum bisa mengajar. Salah satu
tugas pendidik adalah memberikan dorongan kepada murid untuk mampu mendongkrak
masalah yang ada. Bukanya menambah pressure tanpa mempedulikan kesusahan yang
ada.
Ah , kamu kan
mahasiswa, ya harus mandiri lah. Masa harus disuapin terus.
Ini bukan
masalah student learning atau teacher learning. Ini masalah tugas sesungguhnya
dari pendidik. Jika memang tidak bisa memberikan materi, buat lah ia paham
tentang materi tersebut. Caranya? Dorong semangatnya! Bukan malah membunuh
mental nya mencitra kan diri sebagai dosen killer. Ngertikan killer? Tau kan
dampak dari kata killer? We hate you! Itu akibat dari pencitraan killer yang
dia buat. We hate you and everything he gave to us, it automactaclly ignored.
Mungkin sebagai
pendidik yang biasa aja itu sudah cukup untuk memebrikan materi. Tapi untuk
pendidik sungguhnya, pendidik harus mampu memberikan memberikan solusi untuk
memperbaiki error yang terjdi pada peserta didik.
Memang selama
perkuliahan, tidak ada satu sesi pun yang kosong. Bahkan pada mingu pengganti
tidak ada satu pun yang dibiarkan kosong. Namun pada hakikatnya dia tidak
pernah sama sekali. Tidak pernah masuk untuk mengajar sama sekali. Kenapa? Karena
di penghujung semester dari jumlah sekitar 40 peserta didik, tidak lebih dari 3
orang yang lulus. Yang tidak lulus nilai nya bervariasi anatara 0-40. Bayangkan
saja ada yang dapat nilah 10 dari skala 100. Ini bukan satu dua, tapi banyak.
Kita harus sadar
bahwa keberhasilan murid mencerminkan keberhasilan pendidik dalam mengajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar