Kamis, 19 Mei 2016

Pendidik Abal-abal? Banyak!

Jum’at, 20 Mei 2016. Setelah kelar nulis pemuda galau dalam gelas(?), dan udah masuk ke kamar kosan, eh malah masih pengen nulis lagi... sekarang lagi kepikiran Dosen mental killer.
Throw back Tahun 2013, masa-masa kepala botak (paska latihan diksar). Masih maba lah pokonya. Masih excited bisa makan tugas kuliahan sampe ngalong dan bela-belain gak tidur sampe subuh Cuma buat tugas Gambar Teknik.
Sebenarnya dulu sempat nulis kegalauan Dosen mental killer ini. tapi gak sempat dipublikasikan dan akhirnya tesimpan di dalam laptop dan laptopnya udah dijual buat ongkos pulang ke subang setalah 5 tahun di batan gak pulang-pulang.(bang toyib mah belum apa-apa). Kepikiran nulis ini lagi setelah kemaren ikut ngelamar kerjaan sebagai guru bimbel di salah satu yayasan di Batam. Pemilik yayasan bilang ke aku kurang lebih kaya gini. “kehadiran kalian (kami calon guru bimbel) itu bukan dilihat dari daftar hadir, tapi kami akan lihat daftar hadir kalian dari statistik kemajuan murid nanti”.
Paham maksudnya? Nah ini dia esensi dari kata “Mengajar”. Terkadang sebagian guru dan dosen lupa akan esensi dari tenaga pendidik sesungguhnya. Menurut aku, pendidik yang sebener-benernya pendidik adalah pendidik yang mampu untuk memberikan pemahaman kepada murid didiknya. Entah dalam kondisi apa pun itu seorang murid. Memang ada sebagian pendidik yang hanya melakukan tugasnya saja, mereka lupa dengan kewajiban dan tanggung jawab sebagai pendidik. Meraka hanya berpikir, “tugas saya adalah mengajar, menyampaikan materi” tok sampai situ aja. Mereka tidak pernah paham bahwa tugas pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi mentransfer ilmu. Ngertikan makna mentrasnfer? Ilmu yang ada di kepala mereka harus pindah ke kepala muridnya.
Mentransfer. Pernah mentrnsfer data dari USB ke laptop atau sebaliknya? Fenomena apa yang terjadi? Yah data yang ditransfer terkadang cepat dan terkdang lambat. Ketika meraka menstranfer data cepat sebenarnya ada dua faktor. Pertama, muridmya memang cerdas atau pendidiknya yang cerdas dalam mentrasnfer ilmu. Nah ini dia susah gampangnya sebagai pendidik. Terkadang pendidik harus paham betul bagaimana cara murid itu berpikir pada suatu persoalan sehingga ketika murid mentok dalam memahami persoalan, pendidik tahu apa yang harus diperbaiki dari cara beripikir mudid terhadap masalah tertentu. Namun, kebanyakan pendidik yang selama ini saya jumpai. Meraka hanya mengenban tugas saja. Yah saya sudah jelaskan, anda harus nya paham. Toh ketika saya nanya ke kalian ada yang ditanyakan pun kalian diam aja. Artinya tidak ada yang tidak dipahamikan?. Pendidik seperti ini adalah pendidik yang biasa aja. Tidak ada nilai lebih dari dia. bahkan esensi sebenarnya dari title pendidik itu pun kurang cocok untuk dia sandang.
Semester satu aku ada seorang dosen yang mengajarkan tentang teknik material. Dia bercerita tentang seorang mahasiswa yang sangat tidak mengerti matematika namun karena dia paham akan masalah mahasiswa tersebut dia bimbing, dia didik, dia tuntun hingga akhirnya di penghujung semester, nilai yang biasanya 10, 20 dia bisa dapatkan 70 bahkan 80. Ini dia tugas sesungguhnya pendidik. Mentransfer ilmu dari kepala mereka sampai tersimpan di kepala murid. Bukan Cuma ngajar terus tugas nya kelar, setalah ujian terus mahasiswa tidak lolos malah dia biasa aja. Aneh kan? Hey ... sadar tidak ketika kalian melihat murid kalian gagal dalam menerima materi yang kalian sampaikan, itu artinya kalian GAGAL dalam mengajar! Ini dia maksud dari ketua yayasan bimbel tadi. Keberhasilan guru dilihat dari keberhasilan muridnya. Oke kita tidak bisa menyalahkan Pendidik 100% dalam mentransfer ilmu ke muridnya. Karena faktor dari muridnya juga mempengaruhi. Namun, sekali lagi aku harus menegaskan. Pendidik ibaratnya seperti kontrol PID, dia harus menyeimbangkan kondisi error dari muridnya. Maksudnya, ketika dihadapkan dengan murid yang cerdas, tugas pendidik ringan. Tidak perlu bekeringan sampe bahas-basahan. Karena, keringat yang sedikit sudah mampu menyeimbangkan kemampuan muridnya dalam menerima ilmu. Namun, ketika murid dalam keadan terpuruk, bego, bandel, malas, dan sebagainya. Pendidik harus bisa menyeimbangkan semua kondisi error tadi supaya kembala stabil. Pendidik harus tahu bagaimana murid bisa menerima semua ilmu. Pendidik harus mencari cara sebaik mungkin untuk me-reduce semua error pada murid tadi. Ketika pendidik mampu mengatur kontrol sehingga menyeimbangkan kemampuan muridnya sampai dia bisa mengikuti meteri pelajaranya, ini dia pendidik sebenarnya. Bukan pendidik ABAL-ABAL.
Mungkin jika dari 30 murid, yang tidak lulus hanya 3-5 orang dengan nilai 50-55 dari standar kelulusan 60, ini masih dalam kondisi wajar. Tapi jika dari 40 siswa tidak ada yang lolos dan nilai yang tidak lolos adalah 2,3,4,5 20,30 dari skala 100, ini siapa sebenarnya yang error? Yang salah siapa? Muridnya? Hey genk kami masuk univeritas ini dari hasil seleksi dan pasti paham betul lah kampus kami tidak sembarangan aja lolonya. Artinya, kami semua punya kemampuan yang lebih dari kawan-kawan di luar kampus kami. Tapi kenapa dari awal sampai akhir nilai yang terera di kertas 2,23,25, 45? Dan ini masiv! Merata semuanya!! Kita yang salah? Atau gimana?
Aku juga tidak habis pikir dengan pola pikirnya, dia memberi kami tugas yang sangat banyak. Dengan dalih, “biar kamu tidak ada waktu buat main-main”. Wtf, ini apa? Dia tidak paham akan kinerja otak dan maksan pressure of mind. Dia hanya berpikir kerja terus-menerus kan menghasilkan suatu hasil kerja yang menyenangkan. Memang iya! Tapi cek lah bagaimana pendidik itu memberikan mindset terhadap diri dia sendiri. Dia ingin mahasiswa menganggapnya killer. Dia membuat kita tidak nyaman dengan keberadaannya. Tidak paham kah anda, keberhasilan murid dalam belajar adalah salah satunya kenyamanan?. Kenyamanan akan memeberikan kita kemudahan dalam melakukan sesuatu. Karena kita melakukanya dengan hati yang senang. Tak ada beban. Tapi dia? sudah memberikan mindeset Dosen killer, memberikan tugas banyak dan waktu deadline yang sangat kamvret. Sebenarnya it’s oke memberikan tugas banyak. Asal, jadikan lah itu suatu hal yang menyenangkan. Bukan dianggap beban. Sungguh kawan, ketika aku melihat dosen ini rasanya entah lah. Lemas aja. Dia hanya bisa menyampaikan, belum bisa mengajar. Salah satu tugas pendidik adalah memberikan dorongan kepada murid untuk mampu mendongkrak masalah yang ada. Bukanya menambah pressure tanpa mempedulikan kesusahan yang ada.
Ah , kamu kan mahasiswa, ya harus mandiri lah. Masa harus disuapin terus.
Ini bukan masalah student learning atau teacher learning. Ini masalah tugas sesungguhnya dari pendidik. Jika memang tidak bisa memberikan materi, buat lah ia paham tentang materi tersebut. Caranya? Dorong semangatnya! Bukan malah membunuh mental nya mencitra kan diri sebagai dosen killer. Ngertikan killer? Tau kan dampak dari kata killer? We hate you! Itu akibat dari pencitraan killer yang dia buat. We hate you and everything he gave to us, it automactaclly ignored.
Mungkin sebagai pendidik yang biasa aja itu sudah cukup untuk memebrikan materi. Tapi untuk pendidik sungguhnya, pendidik harus mampu memberikan memberikan solusi untuk memperbaiki error yang terjdi pada peserta didik.
Memang selama perkuliahan, tidak ada satu sesi pun yang kosong. Bahkan pada mingu pengganti tidak ada satu pun yang dibiarkan kosong. Namun pada hakikatnya dia tidak pernah sama sekali. Tidak pernah masuk untuk mengajar sama sekali. Kenapa? Karena di penghujung semester dari jumlah sekitar 40 peserta didik, tidak lebih dari 3 orang yang lulus. Yang tidak lulus nilai nya bervariasi anatara 0-40. Bayangkan saja ada yang dapat nilah 10 dari skala 100. Ini bukan satu dua, tapi banyak.
Kita harus sadar bahwa keberhasilan murid mencerminkan keberhasilan pendidik dalam mengajar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar